The Baader-Meinhof Phenomenon

kenapa setelah tahu satu hal baru kita jadi melihatnya di mana-mana

The Baader-Meinhof Phenomenon
I

Pernahkah kita mengalami momen aneh ini? Kita baru saja membeli sebuah sepatu sneakers warna kuning yang menurut kita sangat unik. Kita merasa bangga karena jarang melihat orang memakainya. Namun, besoknya saat kita jalan ke mal, tiba-tiba kita melihat lima orang memakai sepatu kuning yang sama persis. Besoknya lagi, sepatu itu muncul di beranda media sosial kita. Besoknya lagi, rekan kerja kita mendadak memakainya ke kantor. Rasanya seperti semesta sedang memberi kode. Atau jangan-jangan, kita sedang berada di dalam film The Truman Show di mana semua orang adalah aktor bayaran? Santai saja, kita tidak sedang diikuti oleh hal mistis. Tidak ada juga konspirasi semesta di sini. Kita sedang mengalami sebuah fenomena psikologis yang sangat nyata dan dialami oleh hampir semua manusia di bumi.

II

Mari kita mundur sejenak ke tahun 1994. Ada seorang pembaca yang menulis surat kaleng ke koran St. Paul Pioneer Press di Amerika Serikat. Dia bercerita tentang pengalaman anehnya yang terus-menerus dihantui oleh satu nama. Dia kebetulan baru saja membaca tentang sebuah kelompok militan sayap kiri dari Jerman Barat era 70-an. Nama kelompok itu: Baader-Meinhof. Seumur hidupnya, dia tidak pernah mendengar nama itu. Namun anehnya, dalam kurun waktu 24 jam setelah dia tahu, nama Baader-Meinhof muncul di berita TV, lalu muncul di majalah yang ia baca, dan terdengar di obrolan orang asing di kafe. Setelah suratnya terbit di koran, sebuah keajaiban kecil terjadi. Ribuan pembaca lain merespons dengan antusias. Mereka bilang, "Astaga, saya pikir saya gila, ternyata saya juga sering mengalami itu!" Sejak hari itu, pengalaman digerayangi oleh hal yang baru saja kita ketahui mendapat julukan populer: The Baader-Meinhof Phenomenon. Tapi, pertanyaan terbesarnya belum terjawab. Apakah frekuensi kemunculan hal tersebut memang tiba-tiba meningkat secara magis?

III

Dunia di sekitar kita sebenarnya tidak berubah sama sekali. Otak kitalah yang sedang meretas realitas kita sendiri. Dalam dunia neurosains dan psikologi kognitif, fenomena ini punya nama resmi yang lebih ilmiah, yaitu Frequency Illusion atau ilusi frekuensi. Proses di balik layar otak kita ini sungguh elegan. Pada dasarnya, otak manusia adalah mesin penyaring informasi yang kewalahan. Setiap detik, jutaan keping data masuk melalui mata dan telinga. Kalau otak memproses semuanya, sistem saraf kita bisa hang. Jadi, otak menggunakan mekanisme perlindungan pertama bernama Selective Attention (perhatian selektif). Saat teman-teman baru belajar sebuah kata baru atau membeli barang baru, otak secara diam-diam menaruhnya di daftar prioritas. Otak berkata, "Hei, ini informasi baru, mari kita pantau." Lalu, saat benda itu kebetulan lewat di depan mata, sistem kedua menyala. Sistem ini bernama Confirmation Bias (bias konfirmasi). Otak kita menepuk dadanya sendiri dan berkata, "Tuh kan, benar! Benda ini memang sedang ada di mana-mana!" Padahal faktanya, benda itu dari dulu sudah ada di sana. Kita saja yang dulu buta terhadapnya.

IV

Lalu, mengapa otak kita harus repot-repot memprogram sistem seperti ini? Jawabannya tersembunyi jauh di masa lalu evolusi kita sebagai manusia purba. Nenek moyang kita bertahan hidup murni dari kemampuannya mengenali pola. Jika mereka melihat jejak kaki harimau atau bentuk buah beracun sekali saja, otak mereka harus segera disetel agar sangat sensitif melihat pola tersebut di mana pun mereka berada. Ini murni soal bertahan hidup. Masalahnya, hari ini kita tidak lagi berburu di padang sabana. Kita berselancar di internet. Frequency Illusion kini bisa menjadi pedang bermata dua yang berbahaya. Pernahkah kita membaca satu narasi politik atau teori konspirasi, lalu tiba-tiba algoritma menyuapi kita dengan puluhan video yang membahas hal yang sama? Otak purba kita akan tertipu dan mengira, "Wah, semua orang membicarakan ini, berarti ini adalah kebenaran mutlak!" Padahal, itu hanyalah perpaduan mematikan antara ilusi frekuensi di kepala kita dan algoritma media sosial yang ingin mengurung kita dalam echo chamber.

V

Memahami cara kerja Baader-Meinhof Phenomenon ini seperti ditampar oleh realitas, namun dengan cara yang melegakan. Ini membuat saya sadar bahwa kita semua tidak sepintar, seobjektif, dan serasional yang kita kira. Persepsi kita sering kali hanyalah ilusi yang dirakit terburu-buru oleh sistem saraf kita. Namun, di saat yang sama, kita bisa berempati pada diri kita sendiri. Otak kita melakukan semua glitch ini semata-mata karena ia berusaha keras melindungi kita dari dunia yang terlalu bising. Menyadari kelemahan cara berpikir kita sendiri adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan kritis. Jadi, lain kali teman-teman melihat mobil incaran seliweran berulang kali di jalan tol, tersenyumlah. Beri tahu otak teman-teman, "Terima kasih sudah sangat waspada, tapi semesta ini tidak berputar mengelilingi kita." Dan coba tebak? Setelah membaca artikel ini, saya yakin dalam beberapa hari ke depan teman-teman akan melihat atau mendengar istilah Baader-Meinhof di tempat lain secara kebetulan. Saat momen itu tiba, nikmati saja permainannya.